Up Review
Kebanyakan film animasi bertokohkan binatang yang bisa bicara atau anak kecil lucu yang berpetualang ke suatu tempat. Tokoh utama dalam film Up adalah seorang kakek. Kakek itu bahkan bukan kakek baik hati, tapi kakek yang suka menggerutu dan mengeluh terus menerus. Tapi Pixar dapat membuat sebuah film tentang seorang kakek penggerutu menjadi sebuah film yang magical, menyentuh, tapi tetap menghibur.
Pada menit-menit pertama dari film ini kita disuguhkan dengan adegan seorang anak kecil bernama Carl yang hobi bertualang seperti premis dari banyak film animasi yang lain. Dia bertemu dengan seorang anak yang lain yang bernama Ellie and menyadari bahwa mereka berdua mempunyai mimpi yang sama, yaitu pergi ke Paradise Falls, tempat pahlawan mereka, Charles Muntz berada.
Saya sadar saya sedang menonton sesuatu yang berbeda ketika film kemudian menunjukkan transisi kehidupan Carl dan Ellie. Mereka menikah, membeli rumah dan mengubahnya menjadi rumah impian mereka, hidup bahagia dan tua bersama. Transisi ini ditunjukkan tanpa dialog, dan menunjukkan kehidupan realistis dan menurut saya paling realistis di antara semua film animasi yang pernah saya tonton. Mimpi mereka ingin pergi ke Paradise Falls terhambat karena banyak hal, seperti biaya ke dokter dan lain-lain. 20 Menit pertama film ini yang menceritakan kehidupan Carl dengan sangat indah jika dipotong dari film ini bahkan menurut saya dapat memenangkan Oscar sendiri.
Film ini berfokus pada kehidupan Carl setelah Ellie meninggal. Dia menarik diri dari kehidupan, menggerutu setiap saat, dan setelah rumah impiannya bersama Ellie terancam akan diambil oleh developer, dia mengikat ribuan balon ke rumahnya dan menerbangkan rumahnya untuk mencapai mimpinya pergi ke Paradise Falls. Yang dia tak tahu adalah ternyata seorang anak kecil bernama Russell juga tak sengaja ikut dalam ekspedisi itu.
Yang membuat film ini berhasil adalah karakter-karakternya. Carl adalah seorang kakek penggerutu tapi di berbagai momen kita bisa melihat sisi lovable dalam dirinya. Karena prolog film ini tadi, kita bisa bersimpati terhadap Carl dan tahu kenapa dia seperti itu. Menurut saya cerita dalam film ini sangat indah dan saya bahkan menangis di beberapa tempat :)
Untuk visual dan scoring, seperti biasa semua film-film Pixar mempunyai visual yang benar-benar indah. Warna-warna dari gambar benar-benar menonjol dan scoringnya juga pas dengan berbagai peristiwa yang terjadi, baik yang sedih atau yang gembira.
Nah, sekarang beralih ke hal-hal jeleknya. Menurut saya adegan actionnya yang di hutan itu standar-standar saja. Banyak film yang bisa membuat adegan action yang lebih bagus. Dan yang kedua yang menimpa banyak film Pixar menurut saya, adalah appealnya ke anak kecil. Banyak yang bilang film-film Pixar adalah film yang bisa ditonton oleh anak kecil maupun dewasa. Tapi kadang-kadang film Pixar terlalu berat untuk anak kecil. Buktinya pada saat saya menonton di Blitz, ada anak kecil yang berteriak “Kapan actionnya? Kapan matinya? Cepetin dong” saat adegan yang menyentuh. Ini juga yang terjadi saat saya menonton WALL-E yang sarat makna dan bercerita indah tapi miskin dialog.
Overall, Up adalah salah satu lagi film yang bisa dibanggakan oleh Pixar. Film ini bahkan mendapat kehormatan sebagai film pembuka dari Cannes Film Festival, satu-satunya film animasi yang pernah mendapat kehormatan seperti itu. Menyaksikan film ini seperti menonton Howl’s Moving Castle nya Studio Ghibli (btw, kalo belum nonton, harus nonton karena film ini sama magicalnya dengan Up) tapi saya tetap lebih suka Howl’s Moving Castle. Film ini mendapat tempat teratas film Pixar kesukaan saya bersama WALL-E, Ratatouille dan Toy Story. I hope Pixar keeps up with all this great entry!
Score : 3,5/4 (btw for comparison, I gave Howl’s Moving Castle and WALL-E a 4)

