On the Twilight Saga
Sudah bertahun-tahun buku Twilight Saga saya beli dan saya pajang di rak buku. Satu-satunya yang saya baca secara penuh adalah Twilight dan setengah New Moon. Tapi saya punya lengkap koleksinya, sampai novellanya, The Short Second Life of Bree Tanner, dan juga Official Illustrated Guide-nya karena buku-buku itu kelihata bagus kalau dijejerkan di rak buku. Entah kenapa saya tidak punya keinginan membacanya. Saya membaca Twilight waktu SMA dan saya suka buku itu. Alasan saya menyukai buku itu adalah karena Edward, the perfect boyfriend. I’m a teenager then, bear with me.
Akhir-akhir ini saya menonton Breaking Dawn Part I. Against my expectations, it’s not as bad as I thought. Oleh karena itu saya memutuskan untuk mencoba membaca Twilight Saga dari awal.
Hmmm.
Satu hal yang saya sadari waktu membaca ulang Twilight adalah saya sudah lebih dewasa dan saya sudah menjadi pembaca yang lebih baik, dengan jumlah resume novel bacaan yang lebih banyak dan berkualitas. Romance di Twilight sudah tidak membuat saya bahagia lagi. Dan yang saya ingin sekali katakan kepada Bella di buku Twilight pertama adalah : Will you shut up Bells? I get it, Edward is perfect in every way, so handsome and kind, his skin is perfect, his smile is perfect, everything is perfect. Will you STOP repeating it every chapter???
Saya suka membaca tentang heroine yang bisa membela dirinya sendiri, yang mandiri dan tidak membiarkan siapa pun menentukan apa yang dia lakukan. Bella adalah kebalikannya. Seluruh eksistensi dia berpusat pada Edwards. Tanpa Edward, dia kehilangan pijakan. Ini sudah bukan jamannya lagi heroine seperti Bella.
Sekarang kita lanjut ke New Moon. Oh my. Disini Edward meninggalkan Bella. Dan apa yang Bella lakukan? Bukannya bersedih kemudian bangkit, dia tetap bersedih selama berbulan-bulan, dan menjauhi teman-temannya. Great. Hampir setiap orang pernah mengalami devastating breakup. Saya juga pernah berbulan-bulan sedih. Tapi ada perbedaan antara berbulan-bulan sedih sambil tetap produktif dengan berbulan-bulan sedih sambil meratapi nasib di kamar setiap hari. Ini bukan pelajaran moral yang baik, Stephenie Meyer. Apa yang ini kamu ajarkan kepada pembaca, bahwa semua eksistensi kita tergantung pada laki-laki yang ada disamping kita?
Lanjut ke Eclipse. Disini saya sudah bisa lebih enjoy membacanya, karena semua masalahnya sama seperti yang sudah saya sebutkan tadi, jadi saya berpendapat whatever. Terima saja. Dan di buku ini juga saya sadar bahwa dua buku terakhir sangat minim dalam hal action. Everything is all talk, talk, talk. Tidak ada yang exciting. Saya bahkan akan heran kalau ada cowok yang menikmati membaca buku ini. At least di buku ini ada adegan action klimaks yang lumayan baik.
Kemudian lanjut ke novellanya, The Short Second Life of Bree Tanner. Surprisingly, I love it. Buku ini bercerita tentang Bree, seorang vampir baru yang ikut perang di akhir Eclipse. Buku ini penuh dengan action, dan Bree adalah vampir baru yang meminum darah manusia dan membunuh mereka tanpa berpikir. I like her. She’s kick-ass. Dan dengan hanya 180 halaman, buku ini pendek tapi buku yang saya paling suka.
Sekarang saya akan masuk ke crap a.k.a Breaking Dawn. Buku ini mempunyai BANYAK sekali review negatif. Kalau tidak percaya, buka website amazon dan goodreads. Tapi saya mencoba masuk ke buku ini dengan perasaan positif. Buku ini terbagi jadi tiga part, atau tiga ‘book’. Yang pertama Bella, kemudian Jacob, kemudian Bella lagi. Awal buku saya masih biasa saja karena saya sudah menonton filmnya. Saya masih merasa anak vampir itu wtf (bagaimana cara vampir punya anak? Vampir tidak menghasilkan keringat, tidak perlu ke kamar mandi, tapi vampir menghasilkan sperma? Dan di dalam vampir tidak ada darah yang mengalir. Tanpa darah bagaimana cara mereka ereksi?-sorry-) tapi ya sudah mau bagaimana lagi.
Mendekati tengah buku waktu Bella sudah berubah menjadi vampir saya sudah hampir menutup buku saya dengan mual saking jeleknya buku ini. Karakter-karakternya melakukan hal-hal idiot dan tidak logis, and it’s not even in-character. Ingin sekali saya masuk ke dalam buku ini dan mengguncang-guncang karakter idiot ini untuk sadar. Atau mungkin ingin saya mengguncang-guncang pengarangnya, Stephenie Meyer.
Mendekati akhir, buku ini membaik. Perang besar akan terjadi antara keluarga Volturi dan keluarga Cullen. Seperti biasa, kurangnya action di dalam seri ini membuat saya menghargai setiap adegan action yang ada.
Yang paling tidak saya suka adalah tidak adanya pendewasaan karakter Bella yang egois dan kekanakan. Semua yang diinginkan pada akhirnya tercapai. Bahagia bersama Edward selamanya, memiliki anak, bisa tetap berhubungan dengan ayahnya, bahkan tidak menyakiti Jacob. Ketika Bella memutuskan menjadi vampir, seharusnya itu menjadi sesuatu yang menarik untuk digali. Bagaimana Bella harus mengorbankan keinginannya memiliki anak dan segala hidupnya yang lama demi hidup bersama Edward. But noooo. In the end, she got everything she wanted, that selfish bitch. Hidup sebenarnya tidak seperti itu. We can’t always get what we want, and sometimes we make the wrong decisions. Well, not in this book. Bella yang sangat whiny dan menye-menye dari awal tidak mendapatkan pengembangan karakter dalam jenis apapun dan malah mendapatkan segala yang dia inginkan.
Satu lagi yang saya bingung. Di buku ini tidak ada yang mati. Well, ada tapi semuanya karakter tidak penting. Dengan tidak ada yang mati, bahkan tidak ada yang terluka parah, membuat keseriusan perang menjadi luput dari tujuan. Ini seperti film kartun Disney. Perang dengan 22 vampir baru yang sangat kuat dengan hanya 7 orang vampir? 22 vampir baru tersebut mati tanpa cedera serius dari 7 vampir cullen. Really? Apa tegangnya hal seperti itu Meyer?
Stephen King juga pernah bilang bahwa Stephenie Meyer is not a good writer.Untuk menyamakannya dengan J.R.R Tolkien, C.S. Lewis, atau J.K. Rowling adalah penghinaan bagi novelis-novelis hebat itu. Twilight saga tidak seburuk itu. I’ve read much worse lots of time. Tapi Twilight Saga juga bukan buku yang bagus. Semuanya average, kecuali Breaking Dawn yang a complete and utter crap. It’s saying something kalau buku terbaik dari sebuah saga adalah sebuah cerita pendek yang hanya 180 halaman dibanding buku pamungkasnya yang hampir 1.000 halaman.